Kamis, 12 Mei 2016

Fobia terhadap Sekolah



Fobia Sekolah

Fobia sekolah bukan fobia sebenarnya. Fobia ini jauh lebih kompleks dan meliputi gangguan kecemasan perpisahan (separation anxiety), agoraphobia, dan fobia sosial, meskipun kecemasan dipusatkan di sekitar lingkungan sekolah. Anak yang mengalami fobia sekolah biasanya takut meninggalkan lingkungan rumah yang aman dan kehadiran pengasuhnya.
Anak yang mengalami kecemasan perpisahan dapat mengalami simtom/gejala yang sama ketika ditinggalkan di rumah temannya, sama seperti ketika ditinggalkan di sekolah. Anak yang mengalami agoraphobia dapat mengalami simtom-simtom yang sama di dalam bioskop, sama seperti di bus sekolah. Sedangkan anak lain yang mengalami fobia sosial mungkin mengalami simtom yang sama, misalnya ketika diminta untuk membaca dengan keras di sebuah tempat ibadah; sehingga tidak hanya sekolah yang menyebabkan simtom distress ini.
Namun, karena simtom yang tidak menyenangkan ini terjadi secara relatif menetap di sekitar lingkungan sekolah, tidak selalu jelas apa penyebab sesungguhnya masalah anak tersebut. Anak dapat sangat terpengaruh sehingga ia tidak bisa masuk sekolah; umumnya disebut fobia sekolah. Beberapa professional lebih memilih untuk menyebutnya penolakan sekolah (school refusal) atau penghindaran sekolah, tetapi, kebingungan dapat terjadi jika orang berpikir bahwa ini termasuk anak yang membolos tanpa mengalami kecemasan mengenai sekolah dan yang tidak merasa bersalah atau cemas karena tidak masuk sekolah.

Tipe Fobia Sekolah

Terdapat dua tipe fobia sekolah. Yang pertama berhubungan dengan kecamasan perpisahan (separation anxiety) yang secara umum ditemukan pada anak-anak hingga usia 8 tahun (meskipun anak yang lebih tua dapat mengalaminya juga: semakin lama kecemasan perpisahan berlanjut, semakin sulit untuk diobati). Anak yang lebih muda kurang mungkin untuk belajar merasa percaya diri dan mandiri ketika jauh dari orangtuanya. Onset dari kecemasan perpisahan biasanya tiba-tiba terjadi pada anak-anak, yang secara alami akan berkurang setelah berumur 3 tahun, meskipun dapat dimulai dari umur 6 sampai 8 bulan dan berlanjut kemudian.
Tipe kedua yang paling banyak mempengaruhi anak-anak di atas 8 th dan berkisar pada aspek sosial sekolah, dapat dianggap sebagai fobia sosial. Onset dari gangguan ini bertahap, dan dapat dimulai dari peningkatan kesadaran diri sekitar waktu pubertas.
Kadang-kadang, masalahnya terletak saat pergi ke sekolah; anak dapat mengalami agoraphobia. Meskipun gangguan ini biasanya merupakan perluasan dari masalah kecemasan lain yang anak miliki dan mungkin juga akan muncul pada anak yang memiliki kecemasan perpisahan. Anak mungkin ingin agar orangtuanya mengantarnya ke sekolah karena takut bahwa sesuatu yang memalukan dapat terjadi di dalam bus atau kereta, dan tidak merasa aman kecuali bersama dengan seseorang yang dapat menjaganya ketika ia merasa panik.
3 kelompok yang paling banyak mengalami fobia sekolah
  • Pertama, anak yang berumur 5 sampai 7 tahun, dan dihubungkan dengan kecemasan perpisahan.
  • Kedua, didominasi oleh anak berumur 11 sampai 12 tahun, yang disebabkan oleh kecemasan yang berhubungan dengan perubahan dari SD ke SMP, dan dihubungkan dengan fobia sosial.
  • Ketiga, anak yang berumur 14 sampai 16 tahun dan dihubungkan pada fobia sosial dan gangguan lain seperti depresi dan fobia lain.
Terdapat sedikit peningkatan kecemasan perpisahan ketika anak mengalami perubahan bangunan sekolah ketika mereka pindah dari SD ke SMP, atau dari TK ke SD pada umur 7 atau 8 tahun. Ketakutan anak-anak ketika memulai atau pindah sekolah biasanya berkembang selama awal bulan.

Indikator Anak yang Rentan Mengalami Fobia Sekolah

Terdapat karakteristik keluarga yang mengindikasikan apakah anak memiliki kecenderungan untuk lebih rentan mengalami gangguan kecemasan seperti fobia sekolah. Indikatornya adalah:
  • Terdapat anggota keluarga lain yang menderita masalah yang berhubungan dengan emosi atau kecemasan.
  • Orangtua yang bersikap overprotektif terhadap anak. Hal ini menyebabkan anak lebih sering bergantung pada orangtuanya dan takut pergi sendiri.
  • Anak memiliki ibu yang sangat pencemas, dan kecemasan ibunya dapat terpancar pada anaknya, sehingga membuat anak merasa bahwa ia memiliki alasan untuk cemas. (anak juga dapat meniru ibunya, dan berperilaku dengan cara yang sama dengan ibunya, cemas mengenai hal yang sama)
  • Anak memiliki ayah yang hanya memainkan sedikit peran (atau tidak sama sekali) dalam pengasuhannya
  • Anak yang merupakan anak bungsu dalam keluarga sering menjadi yang paling rentan mengalami gangguan kecemasan karena ia dianggap selalu menjadi ‘bayi’ keluarga dan diperlakukan seperti itu. Apalagi, ketika orangtua tahu bahwa mereka tidak akan memiliki anak lagi, mereka kadang-kadang ingin menjaga anaknya tersebut sangat dekat dengan mereka dan, tanpa mereka sadari anak tersebut menjadi terlalu tergantung pada mereka.
  • Anak memiliki penyakit kronis sehingga butuh untuk lebih tergantung pada orangtuanya dan tidak memiliki kepercayaan diri untuk merasa sehat dan kuat dan mampu untuk mengatasi masalah kehidupan.
  • Anak sering berperilaku baik dan mampu secara akademis.
Fobia sekolah dapat berkembang sebagai hasil dari depresi, yang membuat anak merasa bahwa ia tidak mungkin mampu mengatasi tekanan dan tantangan dari sekolah, atau sebagai hasil dari peningkatan jumlah ketakutan dan stressor. 

Simtom-Simtom Fobia Sekolah
Apapun gangguan yang dialami anak, ia dapat mengalami simtom kecemasan di bawah ini:
  • Menangis
  • Diare
  • Merasa lemas
  • Sering buang air kecil
  • Pusing
  • Hiperventilasi (bernafas secara cepat)
  • Insomnia
  • Mual dan muntah
  • Detak jantung cepat
  • Bergetar
  • Sakti perut
  • Berkeringat
Anak yang mengalami fobia sekolah merasa sangat tidak sehat ketika harus pergi ke sekolah. Akan tetapi, simtom menghilang ketika ia diijinkan tidak sekolah walaupun dapat muncul lagi ketika ia diharuskan kembali sekolah. 

Kemungkinan Pemicu Fobia Sekolah meliputi :
  • Diganggu oleh anak lain (mengalami bullying)
  • Memulai sekolah untuk pertama kali
  • Pindah ke sekolah baru dan harus masuk ke sekolah baru dan berteman dengan teman-teman baru.
  • Tidak sekolah untuk waktu yang lama karena sakit atau liburan
  • Kehilangan (seseorang atau hewan peliharan)
  • Merasa terancam oleh kedatangan bayi baru
  • Mengalami pengalaman traumatik seperti disiksa, diperkosa, atau menjadi saksi peristiwa tragis
  • Masalah di rumah seperti anggota keluarga sakit
  • Masalah di rumah seperti perceraian, pemisahan
  • Kekerasan dalam rumah tangga atau penyiksaan anak
  • Tidak memiliki teman yang baik
  • Tidak populer, dipilih pada urutan terakhir dalam kelompok, dan merasa gagal secara fisik (dalam permainan)
  • Merasa gagal secara akademik
  • Takut pada serangan panik ketika perjalanan ke sekolah atau ketika sekolah.
sumber: 
Csóti, Márianna (2003). School Phobia, Panic Attacks and Anxiety in Children. London: Jessica Kingsley Publishers

Tanggapan saya, 

Pergi ke sekolah untuk pertama kali merupakan periode kecemasan yang besar bagi anak. Banyak anak yang akan dipisahkan dari orangtuanya untuk pertama kali, atau akan dipisahkan sepanjang hari untuk pertama kalinya. Perubahan yang tiba-tiba ini dapat membuat mereka cemas dan mereka mungkin mengalami kecemasan perpisahan. Mereka juga mungkin tidak dibiasakan menghabiskan seluruh hari secara terorganisasi dan membuat mereka sangat lelah pada akhir hari, hal ini menyebabkan stres lebih lanjut dan membuat mereka merasa sangat rentan.
Untuk anak yang lebih tua yang bukan baru masuk sekolah, kembali masuk sekolah setelah libur panjang atau sakit, dapat menjadi peristiwa traumatik. Mereka tidak lagi merasa di rumah. Persahabatan dapat berubah dan digantikan dengan teman-teman baru. Guru dan kelas mungkin juga berubah. Mereka mungkin telah terbiasa di rumah dan dekat dengan penjagaan orangtuanya, sehingga merasa tidak aman ketika semua perhatian hilang dan tiba-tiba mereka dibawah pengawasan gurunya kembali.


Saran saya,

Untuk orang tua, yang bisa dilakukan adalah :
·     -  Mengetahui sejak awal gejala yang muncul pada anak sehingga bisa ditangani lebih cepat. Gejala yang muncul ini terjadi pada anak yang berbeda dengan kebiasaan sehari-hari.
·     -  Tanyakan pada anak sebab terjadinya perubahan tersebut dan beri arahan apabila perubahan itu berdampak negatif bagi anak dan masa depannya.
·     -   Membantu anak agar bisa menangani masalahnya sendiri dengan memberikan nasehat atau saran serta menanamkan rasa tanggung jawab.
·     -  Orang tua lebih terbuka atas masalah anak karena masalah yang dialami oleh jaman sekarang jauh berbeda dengan anak-anak jaman dahulu.
·     -   Berkunsultasi dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan masalah phobia sekolah anak seperti dengan guru dan psikolog.

Untuk guru sebagai wali kelas atau untuk guru pembimbing, yang bisa dilakukan adalah :
·     -  Memperhatikan kehadiran siswa di sekolah. Apabila siswa jarang masuk atau tidak masuk pada hari-hari tertentu, segera cari tahu apa penyebabnya.
·     -  Membantu siswa menyelesaikan masalah yang menjadi penyebab munculnya phobia sekolah.
·     -  Bekerja sama dengan guru bidang studi dan wali kelas terkait dengan phobia sekolah yang dialami    siswa.
·     -  Bekerja sama dengan orang tua untuk mencari tau penyebab munculnya phobia sekolah pada siswa dan bekerja sama dalam menyelesaikannya.
·     -   Merujuk siswa ke psikolog apabila dirasa masalah phobia sekolah pada siswa sudah tidak dapat ditangani oleh pihak sekolah.







Kamis, 21 April 2016

Seni Musik






Seni musik adalah suatu cabang seni yang menggunakan musik sebagai sarana untuk mengungkapkan ekspresi pembuatnya. Sedangkan musik adalah seni yang menggunakan suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat menghasilkan irama. Beberapa orang menganggap musik tidak berwujud sama sekali. Musik menurut Aristoteles mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif, dan menumbuhkan jiwa patriotisme.

1. Pengertian Seni Musik
Seni adalah kemampuan membuat sesuatu dalam hubungannya dengan upaya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan oleh gagasan tertentu. Sedangkan musik adalah suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Jadi, bisa disimpulkan bahwa seni musik adalah sarana ekspresi seorang seniman yang menggunakan suara yang disusun sedemikian rupa baik dengan menggunakan alat musik maupun suara vokal.

1.1. Etimologi Musik

Etimologi kata “musik” berasal dari bahasa Inggris music. Sedangkan kata “music” berasal dari bahasa Yunani mousikê. Kata tersebut digunakan untuk merujuk kepada semua seni yang dipimpin oleh Muses. Namun, kebanyakan seni yang dipimpin oleh Muses berupa seni musik dan puisi. Kemudian di Roma, kata ars musica digunakan untuk mengistilahkan puisi yang menggunakan instrumen musik.

2. Sejarah Seni Musik
Musik sudah ada sejak zaman dimana manusia pertama kali hadir. Perkembangan seni musik sangat pesat dikarenakan banyaknya penemuan-penemuan baru terutama di bidang kebudayaan. Hal ini membuat sejarah seni musik harus dibagi menjadi beberapa zaman untuk mempermudah mengetahui perkembangan seni musik. Sejarah seni musik dapat dibagi menjadi enam zaman. Yaitu zaman prasejarah, abad pertengahan, zaman Barok dan Rokoko, zaman klasik, zaman romantik, dan zaman modern.

2.1. Musik Zaman Prasejarah

Musik sudah dikenal sejak kehadiran manusia Homo sapiens yaitu sekitar 180.000 hingga 100.000 tahun yang lalu. Tidak ada yang mengetahui siapa manusia yang pertama kali mengenal seni musik. Alat musik yang tertua adalah flute yang dibuat dari tulang yang telah dilubangi. Biasanya berasal dari tulang paha beruang. Flute tersebut diduga dibuat pada 40.000 tahun yang lalu. Koleksi alat musik zaman purba paling banyak ditemukan di Cina yang berasal dari tahun 7000 sampai 6600 sebelum masehi. Prasasti yang berisi lagu Hurrian yang bertanggal 1400 SM merupakan notasi musik tertua yang pernah dicatat.

2.2. Musik Abad Pertengahan

Pada abad pertengahan (476-1572 M) seni musik kebanyakan digunakan untuk kepentingan kegiatan agama Kristen. Namun, setelah adanya berbagai penemuan-penemuan baru dalam segala bidang, fungsi musik juga berkembang tidak hanya untuk kegiatan agama. Pada zaman renaisance (1500-1600) muncul musik percintaan dan keperwiraan. Pada zaman ini musik Gereja mengalami kemunduran. Alat musik piano dan organ juga ditemukan pada zaman ini. Komposer yang hidup pada zaman ini adalah Léonin, Pérotin, dan Guillaume de Machaut.

2.3. Musik Zaman Barok dan Rokoko

Pada zaman Barok dan Rokoko (1600-1750) penggunaan ornamentik (hiasan musik) makin marah. Namun, pada musik Barok penggunaannya dilakukan secara spontan sedangkan pada musik Rokoko penggunaannya dicatat dan diatur. Tokoh seni musik terkenal pada zaman ini adalah Johan Sebastian Bach. Beliau adalah pencipta musik koral untuk khotbah Gereja dan pencipta lagu-lagu instrumental. Sayangnya pada akhir masa hidupnya Sebastian Bach buta dan meninggal di Leipzig.

2.4. Musik Zaman Klasik

Setelah zaman Barok dan Rokoko berakhir, zaman klasik (1750-1820) muncul. Pada zaman ini, penggunaan dinamika menjadi semakin lembut, perubahan tempo dengan accelerando (semakin cepat) dan ritarteando (semakin lembut), dan pemakaian ornamentik dibatasi. Komposer terkenal di zaman klasik adalah Johann Christian Bach, Joseph Haydn, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Ludwig van Beethoven.

2.5. Musik Zaman Romantik

Musik pada zaman romantik (1810-1900) sangat mementingkan perasaan yang subjektif. Musik mulai digunakan untuk mengungkapkan perasaan. Maka dari itu, penggunaan dinamika dan tempo makin banyak dipakai. Opera dan balet berkembang pada zaman ini. Komposer yang terkenal pada zaman ini adalah Ludwig van Beethoven dan Franz Schubert. Pada akhir zaman romantik, orkestra berkembangan sangat dramatis dan menjadi budaya kaum urban. Tumbuh juga aneka keragaman teater musik yang baru seperti operet, musik komedi, dan berbagai bentuk teater musikal lainnya.

2.6. Musik Zaman Modern

Pada abad ke-20, penemuan radio menjadi cara baru untuk mendengarkan musik. Musik pada zaman modern lebih berfokus pada ritme, gaya, dan suara. Namun musik pada zaman ini tidak mengakui adanya hukum dan peraturan. Penemuan perekam suara dan alat untuk mengedit musik memberikan genre baru pada musik klasik. Dengan demikian, orang-orang semakin bebas mengungkapkan ekspresinya lewat musik.

3. Pertunjukan Seni Musik
Pertunjukan seni musik adalah pengungkapan ekspresi secara fisik pada musik. Biasanya, setiap pertunjukan seni musik akan disiapkan dengan terstruktur dan terencana. Namun, kerap kali setiap pertunjukan dimulai, rencana dapat berubah. Karena sebuah pertunjukan dapat diimprovisasikan. Musisi akan sesekali menambahkan improvisasi untuk membuat pertunjukan yang unik dan menarik.

3.1. Budaya Pertunjukan Seni Musik

Banyak budaya yang berisi tradisi kuat dalam pertunjukan maupun solo, seperti pada musik klasik India dan tradisi seni musik barat. Pada budaya lain, seperti di Bali, terdapat tradisi pertunjukan berkelompok yang kuat. Pertunjukan dapat berupa pemain solo yang menggunakan improvisasi untuk kesenangan pribadi sampai yang sangat terencana dan teratur seperti pada musik klasik modern, upacara keagamaan, festival musik, atau kompetisi musik.

3.2. Bentuk Pertunjukan Seni Musik

Pertunjukan seni musik memiliki beberapa bentuk atau cara penyajiannya. Ada yang disajikan oleh seorang musisi, dengan beberapa musisi, orkestra yang dihadiri banyak orang, dan penyajian dengan musik elektrik. Semua pertunjukan seni musik dilakukan dengan sangat formal. Penonton diharapkan untuk tenang dan tidak ribut. Namun, banyak penyajian musik elektrik yang dilakukan secara tidak formal. Seperti pada konser-konser di ruang publik dimana penonton bebas teriak, menari, atau ikut menyanyi.

3.3. Persiapan Pertunjukan Seni Musik

Sebuah pertunjukan seni musik terutama yang akan dipertontonkan oleh orang banyak, harus dilaksanakan dengan baik dan sempurna. Ada beberapa rangkaian kegiatan yang terorganisasi untuk mempersiapkan sebuah pertunjukan seni musik. Hal yang harus diperhatikan adalah kemampuan teknis, kemampuan berkomunikasi dengan penonton (secara verbal maupun dengan musik), cara bersikap saat tampil, mengatasi rasa gugup ketika tampil, dll. Hal ini tentu membutuhkan latihan secara tekun.

4. Pendidikan Seni Musik
Pendidikan seni musik bertujuan untuk memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berekspresi, berapresiasi, berkreasi, membentuk harmoni, dan menciptakan keindahan. Dengan demikian, mereka dapat membekali diri dengan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang dapat mereka gunakan untuk membantu memecahkan permasalah hidup sehari-hari. Pendidikan seni musik juga dapat mengembangkan kepribadiannya.

4.1. Pendidikan Seni Musik dan Sikap Toleransi

Pendidikan seni musik diharapkan mampu memfasilitasi dan mengakomodir keberagaman masing-masing individu peserta didik maupun keragaman budaya masing-masing daerah, serta budaya nasional dalam rangka menyikapi arus globalisasi. Pendidik dapat membentuk kelompok dalam performan terhadap lagu daerah, sehingga akan membantu peserta didik untuk berinteraksi, berkomunikasi, dan menumbuhkan sikap toleransi sesama mereka. Strategi ini dapat memberikan pengalaman dan kesadaran, serta kepedulian peserta didik akan keberagaman kultur, dan akhirnya akan mengurangi prasangka terhadap etnis sesama peserta didik atau etnis kelompok lain. Sehingga dengan pengurangan prasangka justru akan menumbuhkan sikap terbuka dan terjalinnya kerjasama, serta iklim kultur yang positif.

4.2. Pendidikan Seni Musik untuk Mengembangkan Kreativitas

Pendidikan seni musik dapat merangsang peserta didik untuk berkreativitas. Yaitu kreatif dalam berkreasi dengan berbagai alat musik atau suara vokal yang dimiliki. Aktivitas-aktivitas demikian tidak hanya membentuk kreativitas di bidang seni musik saja, tetapi dapat mengembangkan pola pikir kreatif yang sangat berguna untuk menjalani hidup di masa depan.

5. Macam-Macam Seni Musik
Banyak cara yang dapat digunakan oleh musisi untuk mengungkapkan ekspresinya lewat musik. Terlebih lagi dengan kebebasan seni musik dan perkembangan teknologi di zaman modern ini. Hal ini menciptakan aliran/genre dalam seni musik. Masing-masing genre terbagi lagi menjadi beberapa sub-genre. Pengkategorian musik seperti ini, meskipun terkadang merupakan hal yang subjektif, namun merupakan salah satu ilmu yang dipelajari dan ditetapkan oleh para ahli musik dunia. Genre musik yang populer saat ini adalah:
  1. Blues
  2. Country
  3. K-pop
  4. Pop
  5. Dangdut
  6. Electronic
  7. Easy listening
  8. Hip hop
  9. Jazz
  10. R&B
  11. Rock
  12. Reggae


GITAR


Gitar adalah sebuah alat musik berdawai yang dimainkan dengan cara dipetik, umumnya menggunakan jari maupun plektrum. Gitar terbentuk atas sebuah bagian tubuh pokok dengan bagian leher yang padat sebagai tempat senar yang umumnya berjumlah enam didempetkan. Gitar secara tradisional dibentuk dari berbagai jenis kayu dengan senar yang terbuat dari nilon maupun baja. Beberapa gitar modern dibuat dari material polikarbonat. Secara umum, gitar terbagi atas 2 jenis: akustik dan elektrik.
Gitar akustik, dengan bagian badannya yang berlubang (hollow body), telah digunakan selama ribuan tahun. Terdapat tiga jenis utama gitar akustik modern: gitar akustik senar-nilon, gitar akustik senar-baja, dan gitar archtop. Gitar klasik umumnya dimainkan sebagai instrumen solo menggunakan teknik fingerpicking komprehensif.
Gitar elektrik, diperkenalkan pada tahun 1930an, bergantung pada penguat yang secara elektronik mampu memanipulasi bunyi gitar. Pada permulaan penggunaannya, gitar elektrik menggunakan badan berlubang (hollow body), namun kemudian penggunaan badan padat (solid body) dirasa lebih sesuai. Gitar elektrik terkenal luas sebagai instrumen utama pada berbagai genre musik seperti blues, country, reggae, jazz, metal, rock, dan berbagai bentuk musik pop.

Sejarah
Kata ‘gitar’ atau guitar dalam bahasa Inggris, pada mulanya diambil dari nama alat musik petik kuno di wilayah Persia pada kira-kira tahun 1500 SM yang dikenal sebagai citar atau sehtar. Alat musik ini kemudian berkembang menjadi berbagai macam model gitar kuno yang dikenal dengan istilah umum tanbur. Pada tahun 300 SM Tanbur Persia dikembangkan oleh bangsa Yunani dan enam abad kemudian oleh bangsa Romawi (Bellow, 1970:54-55). Pada tahun 476M alat musik ini dibawa oleh bangsa Romawi ke Spanyol dan bertransformasi menjadi: (1) guitarra Morisca yang berfungsi sebagai pembawa melodi, dan (2) Guitarra Latina untuk memainkan akor. Tiga abad kemudian bangsa Arab membawa semacam gitar gambus dengan sebutan al ud ke Spanyol (Summerfield, 1982:12). Berdasarkan konstruksi al ud Arab dan kedua model gitar dari Romawi tersebut, bangsa Spanyol kemudian membuat alat musiknya sendiri yang disebut vihuela. Sebagai hasilnya, vihuela menjadi populer di Spanyol sementara alat-alat musik pendahulunya sedikit demi sedikit ditinggalkan. Walaupun demikian al ud dibawa orang ke negara-negara Eropa Barat dan menyaingi popularitas vihuela di Spanyol. Di Eropa al ud disambut dengan baik dan berkembang menjadi berbagai model lute Eropa hingga kira-kira akhir abad ke-17. Sementara itu vihuela berkembang terus menjadi berbagai macam gitar selama berabad-abad hingga akhirnya menjadi gitar klasik yang digunakan pada saat ini.
Keaslian gitar tidak dapat dilihat dari keantikannya. Beberapa ahli merasa alat ini berasal dari benua Afrika, di mana banyak replika modern dalam bentuk kotak bulat seperti kulit kerang dengan Gut / benang benang sutera, di banyak daerah benua itu. Ahli lain menemukan alat ini dalam bentuk kaca di relief relief batu tua di zaman Asia Tengah dan Asia Kuno. Bahan pemikiran lain juga timbul dengan ditemukannya vas vas Yunani Kuno yang bercorak. Greek Strings mungkin adalah alat pertama yang dikatagorikan sebagai gitar. Gitar modern kemungkinan berakar dari gitar Spanyol, tetapi berbagai jenis gitar seperti instrumen instrumen yang kita bisa saksikan dilukisan lukisan pada zaman Medieval dan Renaiassance yang banyak terdapat diseluruh Eropa.

Jenis Gitar

1. Gitar Akustik


Gitar akustik memiliki bagian badan yang berlubang (hollow body) dan dapat menghasilkan suara yang relatif cukup keras tanpa penguatan elektrik. Bunyi dari gitar akustik dihasilkan dari getaran senar yang mengalir antara tulang leher (nut) dengan jembatan (brigde) yang kemudian diperkuat oleh bagian badan gitar yang bertindak sebagai lubang resonansi.
Lubang resonansi pada umumnya berupa lubang berbentuk lingkaran terletak di tengah badan gitar. Tapi sesuai perkembangan zaman dan tuntutan estetika lubang resonansi tidak hanya berbentuk lingkaran, tapi juga bisa berupa kaligrafi seperti yang diperkenalkan oleh CC Guitar dengan Calligraphy Series yang mengambil karakter kanji (China, Japan).
Terdapat beberapa subkategori dari pengelompokan gitar akustik, di antaranya:
  • Gitar senar-nilon, termasuk gitar klasik dan gitar flamenco
  • Gitar senar-baja, termasuk gitar puncak-datar dan gitar folk
  • Gitar archtop
  • Gitar duabelas-senar
Pengelompokan gitar akustik juga memasukkan gitar akustik yang memiliki tingkatan jangkauan nada yang berbeda, seperti gitar bass akustik yang memiliki setem yang sama dengan gitar bass elektrik.

2. Gitar elektrik


Gitar elektrik adalah gitar yang dirancang agar bunyi yang dihasilkan dapat diperkuat secara elektrik dan jika dimainkan tanpa penguatan tersebut akan menghasilkan suara yang relatif lemah. Komponen utama pada gitar elektrik adalah pickup. Pick up Elektromagnetik menangkap dan mengubah getaran senar ke dalam bentuk sinyal, yang kemudian diteruskan ke pengeras suara melelui medium kabel atau gelombang radio. Suara yang dihasilkan seringkali dimanipulasi sedemikian rupa menggunakan peralatan elektronik tambahan maupun distorsi alami dari tabung vakum di dalam pengeras suara. Terdapat dua jenis pickup magnetik, yaitu pickup kumparan tunggal (single coil) dan pickup kumparan ganda (double coil atau humbucker), di mana setiap pickup dapat diatur aktif atau pasif. Pickup pertama yang berhasil digunakan pada gitar dikembangkan oleh George Beauchamp pada 1931, diamana saat itu ia masih menggunakan badan gitar yang berlubang (hollow-body). Setelah Perang Dunia II, barulah gitar elektrik badan-padat (solid-body) dipopulerkan oleh Gibson yang bekerjasama dengan Les Paul, serta oleh Leo Fender yang bekerja secara independen.
Beberapa model gitar elektrik menggunakan pickup piezoelektrik, yang berfungsi sebagai transduser untuk menghasilkan suara yang relatif mirip dengan gitar akustik. Terdapat pula gitar yang mengkombinasikan pickup magnetik dan pickup piezoelektrik yang bernama hybrid guitars.

Konstruksi Gitar

Tubuh gitar terdiri dari tiga bagian utama yaitu kepala, leher dan badan. Pada bagian kepala terdapat mesin penala dawai. Dawai gitar yang berjumlah enam utas masing-masing diikatkan pada enam buah pasak yang merupakan bagian dari mesin penala. Bagian leher terdapat di antara kepala dan badan. Bagian muka leher yang masuk hingga kira-kira seperempat papan muka dari badan gitar, merupakan papan jari yang memiliki 19 pembatas dari logam yang dikenal dengan sebutan fret. Fungsinya adalah untuk memproduksi tingkat ketinggian nada yang berbeda dengan jalan menempatkan jari-jari pada ruang-ruang di antara logam-logam fret. Bagian badan gitar berfungsi sebagai tabung resonator untuk memperbesar bunyi yang dihasilkan oleh getaran dawai. Papan muka pada badan gitar yang bahan kayunya lebih tipis dibanding papan belakang dan samping, disebut juga sebagai papan suara. Pada papan suara terdapat lobang suara untuk mengeluarkan hasil produksi bunyi. Pada dasarnya bunyi gitar dihasilkan oleh getaran dawai-dawai yang terentang di antara batang penyanggah dawai yang merupakan pembatas antara kepala dan leher (disebut nut) dengan gading pembatas (disebut bridge) pada pangkal pengikat dawai di atas papan suara (disebut base).

Kunci gitar